hhh… sudah dua jam aku menunggunya di taman ini, tapi dia masih belum datang juga. Ditelpon gak diangkat, disms gak dibales. Dia lagi ngapain sih!? Omelku dalam hati.
Ya, aku sedang menuggu kekasihku, kekasih yang teramat aku cintai, tapi hari ini dia membuatku menuggu hingga dua jam tanpa kabar sama sekali. Menyebalkan!
Aku bangkit dari dudukku, berniat untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggunya datang. Tapi urung, sebab aku takut saat dia datang nanti aku belum sampai ditempat ini lagi, aku tak mau membuatnya menunggu. Aku duduk lagi dibangku taman ini dengan sikap menunggu. Saat sedang asyik mengamati tingkah anak kecil yang ditemani ibunya di sisi lain taman ini, seseorang menepuk bahuku dari belakang.
“Kak Yusuf…” Ujarku. Begitu aku menoleh kebelakang, wajahku langsung terasa panas. Ternyata bukan Kak Yusuf. Duh! Malunya. Sial! Umpatku dalam hati. Tapi mau tidak mau aku tersenyum juga bertemu dengannya di sini.
“Eh! Kak Adil kok ada disini?” Tanyaku
“Seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kau disini? Menunggu seseorang?”
“Mmm…Iya. Kalau kakak? Menunggu temen juga?”
“Enggak kok, memang tiap sore aku selalu jalan-jalan kesini,” ucapnya sambil tersenyum dan aku yakin akibatnya akan terus berlanjut. ”Bagaimana kabarmu?Sudah dua tahun kita tidak bertemu, kamu masih seperti dulu,” katanya dengan senyum yang masih terjaga.
“Hehehe… baik-baik aja. Kak Adil sendiri gimana kabarnya? Kok sekarang rambutnya dipanjangin kenapa? Lucu lho. Haha…” ejekku.
Obrolan kami pun terus berlanjut hingga petang menjelang. Sampai sebuah pertanyaannya mengingatkanku pada sesuatu.
“Orang yang kamu tunggu tak jadi datang?”
Aku sedikit kaget dan kemudian terdiam.
“Zulfa…?” katanya lagi menyebut namaku karena tak mendapat jawaban.
“Eh! Ya. Mungkin dia tak datang.” Jawabku sambil tersenyum kecut.
“Mmm…Sudah petang, aku pulang dulu ya, Kak.” Pamitku sembari berdiri.
“Ayo aku antar, aku juga mau pulang kok.”
“Eh! Gak usah Kak…” tolakku.
“Tak apa.Yuk!” Ajaknya.
Aku menatap matanya lalu mengangguk dan kami pun berjalan beriringan. Itulah kali pertama aku tak memikirkan Kak Yusuf sejak aku bertemu dengannya.
***
07 Februari 2001
Aku kembali bertemu dengannya, laki-laki yang dulu aku cinta namun tak pernah aku miliki sepenuhnya. Lagi-lagi perasaan tak karuan ini muncul. Aku tak bisa berpikir, seluruh wajahku terasa panas dan aku menjadi bingung bersikap. Aku merasakannya lagi. tapi aku tak akan memperjelas perasaan ini, sebab kalau pun jelas, semua juga tak berarti apa-apa. Aku hanya salah satu bagian dari masa lalunya lagi pula, aku sudah bersama dengan orang yang aku sayang, untuk apa semuanya diperjelas?
Sedang aku masih tak paham, bagaimana bisa aku membiarkannya terus memporak-porandakan hatiku hingga menjadi tak karuan seperti ini? bersama dengannya membuatku sebal, sebab pada akhirnya aku menjadi lebih ingin lebih lama bersama dengannya. Laki-laki itu. Laki-laki yang dulu aku cinta namun tak pernah aku miliki sepenuhnya.
***
Selama satu bulan ini, kak Yusuf sibuk dengan pekerjaannya, dia tak punya waktu untukku dan aku terus bersikap pengertian. Teman-temanku sering menyebutku “Kekasih yang terlantar”. Tentu saja rasanya menyebalkan.
Dan kemudian, dia selalu datang menemaniku. Laki-laki itu. Ya, Kak Adil. Tak pernah terpikir sebelumnya olehku bahwa aku akan kembali dekat dengannya, seperti dua tahun silam. Hanya saja kali ini, waktunya benar-benar tidak tepat…
***
Siang ini, Kak Adil bertandang kerumahku. Tak bisa kupungkiri, hari itu dia tampak tampan, menarik. Kami duduk bersebelahan dan itu membuat jantungku memburu. Hhh…semoga dia tak mendengarnya. Tiba-tiba aku yakin bahwa aku jatuh cinta lagi, suara hatiku berkata. Tidak! Seharusnya tidak begini. Tak mungkin aku mencintai Kak Adil. Tak boleh begini! Protesku dalam hati.
“Zulfa?” Sebuah suara mengagetkanku.
“Eh? Ya, Kak? Kenapa?” Tanyaku.
“Kamu tak mendengarkanku ya?”Tuduhnya.
“Mmm…maaf, Kak. Barusan kakak bilang apa?” Dia menatapku jengkel, namun akhirnya dia mau mengulangi perkataannya.
“Aku bilang, mmm… maafkan aku telah berusaha melupakanmu dua tahun ini,” ucapnya hati-hati, memperhatikan wajahku apakah aku marah atau tidak dan aku tidak marah. Dia melanjutkan, “itu berhasil. Tapi pertemuanku denganmu ditaman bulan lalu membuatku merasakan lagi apa yang dulu aku rasakan padamu,” dia menatap mataku dan kemudian meraih kedua tanganku dalam genggamannya. “Zulfa…Aku masih mencintaimu.” Aku benar-benar terkejut. Bagaimana ini? Tanyaku dalam hati.
Pikiranku terlalu kacau hingga aku tak menyadari kehadiran seseorang diambang pintu. Dengan nada terkejut dia menyebut namaku, ”Zulfa…?” Aku langsung tersadar mendengar suara itu. Tentu saja aku tak akan pernah lupa dengan suara ini. Kak Yusuf. Cepat-cepat aku tarik tanganku dari genggaman Kak Adil. Mampus aku! Umpatku dalam hati.
“Kak Yusuf, mm… ayo kak masuk,” ajakku terdengar biasa. Tapi aku tahu, aku benar-benar salah tingkah sebab saat hendak menghampirinya, aku tersandung kakiku sendiri hingga terjatuh. Aku semakin bingung ketika hanya dalam satu detik, kedua lenganku sudah digapai untuk membantuku berdiri. Kak Yusuf memegang lengan kiriku dan Kak Adil memegang lengan sebelah kananku.
Lalu kami hanya berdiri diam. Sama-sama bingung tak tahu harus bersikap bagaimana, hingga kulihat ibu datang bersama seorang lelaki disampingnya. Lelaki itu memakai kacamata, bertubuh tegap dan wajahnya terlihat bijaksana. Aku terlalu penaasaran sampai tak sadar pertanyaanku terlontar mendahului kedua cowok disampingku yang sudah membuka mulut hendak menyapa ibu.
“Ibu sama siapa?” Tanyaku.
“Ini Putra, anak sahabat ibu. Ibu mengajaknya kemari untuk memperkenalkannya denganmu.”
“Dikenalkan denganku? Memang apa hubungannya denganku?” Tanyaku heran.
“Tentu saja ada hubungannya, sebab ibu dan teman ibu akan menjodohkan kalian berdua,” senyum ibu terkembang, begitu pun dengan lelaki itu.
Aku semakin bingung saja, keadaan ini membuatku semakin pusing. Kulihat senyum ibu dan lelaki itu yang masih terjaga, kemudian kemarahan di wajah Kak Yusuf dan ekspresi kebingungan di mata Kak Adil. Pandanganku mulai kabur. Kurasakan pegangan Kak Yusuf dan Kak Adil semakin kuat, dan…
“Gubrak!!!”
Aku tak sadarkan diri.