RSS

Arsip Bulanan: Februari 2012

Gubrak

hhh… sudah dua jam aku menunggunya di taman ini, tapi dia masih belum datang juga. Ditelpon gak diangkat, disms gak dibales. Dia lagi ngapain sih!? Omelku dalam hati.

Ya, aku sedang menuggu kekasihku, kekasih yang teramat aku cintai, tapi hari ini dia membuatku menuggu hingga dua jam tanpa kabar sama sekali. Menyebalkan!

Aku bangkit dari dudukku, berniat untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggunya datang. Tapi urung, sebab aku takut saat dia datang nanti aku belum sampai ditempat ini lagi, aku tak mau membuatnya menunggu. Aku duduk lagi dibangku taman ini dengan sikap menunggu. Saat sedang asyik mengamati tingkah anak kecil yang ditemani ibunya di sisi lain taman ini, seseorang menepuk bahuku dari belakang.

“Kak Yusuf…” Ujarku. Begitu aku menoleh kebelakang, wajahku langsung terasa panas. Ternyata bukan Kak Yusuf. Duh! Malunya. Sial! Umpatku dalam hati. Tapi mau tidak mau aku tersenyum juga bertemu dengannya di sini.

“Eh! Kak Adil kok ada disini?” Tanyaku

“Seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kau disini? Menunggu seseorang?”

“Mmm…Iya. Kalau kakak? Menunggu temen juga?”

“Enggak kok, memang tiap sore aku selalu jalan-jalan kesini,”  ucapnya sambil tersenyum dan aku yakin akibatnya akan terus berlanjut. ”Bagaimana kabarmu?Sudah dua tahun kita tidak bertemu, kamu masih seperti dulu,” katanya dengan senyum yang masih terjaga.

“Hehehe… baik-baik aja. Kak Adil sendiri gimana kabarnya? Kok sekarang rambutnya dipanjangin kenapa? Lucu lho. Haha…” ejekku.

Obrolan kami pun terus berlanjut hingga petang menjelang. Sampai sebuah pertanyaannya mengingatkanku pada sesuatu.

“Orang yang kamu tunggu tak jadi datang?”

Aku sedikit kaget dan kemudian terdiam.

“Zulfa…?” katanya lagi menyebut namaku karena tak mendapat jawaban.

“Eh! Ya. Mungkin dia tak datang.” Jawabku sambil tersenyum kecut.

“Mmm…Sudah petang, aku pulang dulu ya, Kak.” Pamitku sembari berdiri.

“Ayo aku antar, aku juga mau pulang kok.”

“Eh! Gak usah Kak…” tolakku.

“Tak apa.Yuk!” Ajaknya.

Aku menatap matanya lalu mengangguk dan kami pun berjalan beriringan. Itulah kali pertama aku tak memikirkan Kak Yusuf sejak aku bertemu dengannya.

***

07 Februari 2001

Aku kembali bertemu dengannya, laki-laki yang dulu aku cinta namun tak pernah aku miliki sepenuhnya. Lagi-lagi perasaan tak karuan ini muncul. Aku tak bisa berpikir, seluruh wajahku terasa panas dan aku menjadi bingung bersikap. Aku merasakannya lagi. tapi aku tak akan memperjelas perasaan ini, sebab kalau pun jelas, semua juga tak berarti apa-apa. Aku hanya salah satu bagian dari masa lalunya lagi pula, aku sudah bersama dengan orang yang aku sayang, untuk apa semuanya diperjelas?

Sedang aku masih tak paham, bagaimana bisa aku membiarkannya terus memporak-porandakan hatiku hingga menjadi tak karuan seperti ini? bersama dengannya membuatku sebal, sebab pada akhirnya aku menjadi lebih ingin lebih lama bersama dengannya. Laki-laki itu. Laki-laki yang dulu aku cinta namun tak pernah aku miliki sepenuhnya.

***

      Selama satu bulan ini, kak Yusuf sibuk dengan pekerjaannya, dia tak punya waktu untukku dan aku terus bersikap pengertian. Teman-temanku sering menyebutku “Kekasih yang terlantar”. Tentu saja rasanya menyebalkan.

Dan kemudian, dia selalu datang menemaniku. Laki-laki itu. Ya, Kak Adil. Tak pernah terpikir sebelumnya olehku bahwa aku akan kembali dekat dengannya, seperti dua tahun silam. Hanya saja kali ini, waktunya benar-benar tidak tepat…

***

      Siang ini, Kak Adil bertandang kerumahku. Tak bisa kupungkiri, hari itu dia tampak tampan, menarik. Kami duduk bersebelahan dan itu membuat jantungku memburu. Hhh…semoga dia tak mendengarnya. Tiba-tiba aku yakin bahwa aku jatuh cinta lagi, suara hatiku berkata. Tidak! Seharusnya tidak begini. Tak mungkin aku mencintai Kak Adil. Tak boleh begini! Protesku dalam hati.

“Zulfa?” Sebuah suara mengagetkanku.

“Eh? Ya, Kak? Kenapa?” Tanyaku.

“Kamu tak mendengarkanku ya?”Tuduhnya.

“Mmm…maaf, Kak. Barusan kakak bilang apa?” Dia menatapku jengkel, namun akhirnya dia mau mengulangi perkataannya.

“Aku bilang, mmm… maafkan aku telah berusaha melupakanmu dua tahun ini,” ucapnya hati-hati, memperhatikan wajahku apakah aku marah atau tidak dan aku tidak marah. Dia melanjutkan,  “itu berhasil. Tapi pertemuanku denganmu ditaman bulan lalu membuatku merasakan lagi apa yang dulu aku rasakan padamu,” dia menatap mataku dan kemudian meraih kedua tanganku dalam genggamannya. “Zulfa…Aku masih mencintaimu.” Aku benar-benar terkejut. Bagaimana ini? Tanyaku dalam hati.

Pikiranku terlalu kacau hingga aku tak menyadari kehadiran seseorang diambang pintu. Dengan nada terkejut dia menyebut namaku, ”Zulfa…?” Aku langsung tersadar mendengar suara itu. Tentu saja aku tak akan pernah lupa dengan suara ini. Kak Yusuf. Cepat-cepat aku tarik tanganku dari genggaman Kak Adil. Mampus aku! Umpatku dalam hati.

“Kak Yusuf, mm… ayo kak masuk,” ajakku terdengar biasa. Tapi aku tahu, aku benar-benar salah tingkah sebab saat hendak menghampirinya, aku tersandung kakiku sendiri hingga terjatuh. Aku semakin bingung ketika hanya dalam satu detik, kedua lenganku sudah digapai untuk membantuku berdiri. Kak Yusuf  memegang lengan kiriku dan Kak Adil memegang lengan sebelah kananku.

Lalu kami hanya berdiri diam. Sama-sama bingung tak tahu harus bersikap bagaimana, hingga kulihat ibu datang bersama seorang lelaki disampingnya. Lelaki itu memakai kacamata, bertubuh tegap dan wajahnya terlihat bijaksana. Aku terlalu penaasaran sampai tak sadar pertanyaanku terlontar mendahului kedua cowok disampingku yang sudah membuka mulut hendak menyapa ibu.

“Ibu sama siapa?” Tanyaku.

“Ini Putra, anak sahabat ibu. Ibu mengajaknya kemari untuk memperkenalkannya denganmu.”

“Dikenalkan denganku? Memang apa hubungannya denganku?” Tanyaku heran.

“Tentu saja ada hubungannya, sebab ibu dan teman ibu akan menjodohkan kalian berdua,” senyum ibu terkembang, begitu pun dengan lelaki itu.

Aku semakin bingung saja, keadaan ini membuatku semakin pusing. Kulihat senyum ibu dan lelaki itu yang masih terjaga, kemudian kemarahan di wajah Kak Yusuf dan ekspresi kebingungan di mata Kak Adil. Pandanganku mulai kabur. Kurasakan pegangan Kak Yusuf dan Kak Adil semakin kuat, dan…

“Gubrak!!!”

Aku tak sadarkan diri.

 

 
2 Comments

Posted by pada 09/02/2012 in cerpen

 

Kaitkata: , ,

Gadis Kecilku

“Alkisah, disebuah kampung hiduplah gadis kecil berumur sepuluh tahun, dia hidup dengan kedua orang tuanya. Meski miskin, namun hidup mereka sangat bahagia. Tapi kebahagiaan itu segera berakhir setelah peristiwa tragis itu terjadi, sang gadis kecil tertabrak truk yang mengakibatkan dia tidak bisa berjalan dengan normal, dia harus memakai tongkat untuk menyangga tubuhnya yang kecil. Sang ibu tidak dapat menerima keadaan ini, tiap malam ibunya selalu menangisi keadaan putri tunggalnya. Sang gadis kecilpun merasakan kesedihan ibunya, ia tidak ingin ibunya terus menangisi keadaannya. Maka dia berjanji,dia akan dapat berlari lagi seperti dulu. Dia berjanji.

Sang gadis kecil belajar berjalan terus menerus tanpa sepengetahuan orang tuanya. Meski membutuhkan waktu yang teramat lama hingga bertahun-tahun lamanya, tapi tak sekali pun gadis itu menyerah. Usahanya pun membuahkan hasil, ia dapat berjalan lagi, bahkan kini ia bisa berlari meski kadang masih sering terjatuh. Dia persembahkan hadiah itu pada ibunya. Sungguh, ibunya bahagia sekali. Hari penuh bahagia berjalan kembali. Merekapun hidup bahagia selamanya.”  Aku tersenyum menyudahi dongeng untuk anak-anak yang duduk di depanku.

“Nah, adik-adik. Karena sekarang sudah waktunya makan siang, kita makan dulu,  yuk. Nanti setelah makan, kita main-main lagi. Kalian setuju?” Tanyaku.

“Setuju…!”  Anak-anak itu menjawab dengan serempak lalu berhamburan menuju ruang makan. Bahagianya aku melihat senyum mereka.

“Kak…” sebuah suara memanggilku. Kudapati seorang gadis kecil menarik bajuku.

“Iya, sayang.. ada apa?”

“Tya janji kak Putra, Tya janji. Tya akan bisa berjalan seperti cerita kakak, Tya akan berusaha. Tya akan berusaha agar Tya bisa berlari, Tya akan berusaha. Tya janji kak Putra.”  Aku tertegun mendengarnya. Wajah yang biasanya selalu dihiasi tawa riang, berubah menjadi wajah yang serius, penuh keyakinan. Suaranya serak penuh getaran, getaran karena keinginan yang kuat. Aku hanya menatapnya. Sungguh, aku tak menyangka perkataan seperti itu akan keluar dari mulut seorang bocah kecil berumur tujuh tahun. Keinginan itu terpancar dari mata beningnya. Aku memeluknya. Kuusap ujung-ujung mataku.

Ah! Tak terasa waktu sudah berjalan tiga tahun setelah aku menemukan anak kecil berumur empat tahun di depan kos-kosanku. Aku masih ingat dengan jelas malam itu, hujan deras mengguyur bumi. Aku menemukan anak perempuan kecil, dia kedinginan, terkulai lemah, tubuhnya sangat dingin, bibirnya membiru, tak berdaya dan pingsan.

Esoknya, begitu bangun bocah kecil itu menangis, mungkin dia merasa asing berada di kamarku. Aku mencoba menenangkannya, memberikan keterangan ringan tentang mengapa ia kini berada disini, dan kulakukan hal-hal konyol agar gadis kecil itu tertawa. Aku berhasil! Saat kulihat bocah itu tertawa seolah dunia pun ikut tertawa, wajahnya bercahaya, rambutnya ikal hitam legam sehitam matanya, pipinya tembem, gigi-giginya lucu seperti kelinci, dia benar-benar nampak seperti peri kecil yang sempurna. Sayang, kedua kakinya cacat, dari lutut hingga ujung jarinya lumpuh. Sebenarmya kedua kakinya terlihat normal, hanya sedikit lebih kecil karena tidak pernah digerakkan. Menurut dokter, syaraf-syaraf motoriknya terjepit, membuatnya tidak dapat bergerak meski hanya untuk menggerakkan jempol kaki.

Satu bulan setelah itu, aku dan teman-temanku membangun sebuah Taman Bacaan untuk anak-anak terlantar. Taman Bacaan ini berkembang cepat, hanya berjarak setengah tahun saja sudah ada beberapa Taman Bacaan di sekitar Jogja, anak-anaknya pun sudah mencapai ratusan. Semua bermula dari bocah itu. Tya. Ya. Sejak menemukannya, aku berjanji berusaha sebisa mungkin agar  tak ada lagi yang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Berusaha agar tawa riang anak-anak tak hilang dari wajah mereka.

Dan kini setelah tiga tahun berlalu, anak perempuan kecil yang berjalan dengan menggunakan dua tongkat di ketiaknya mengatakan hal yang tak terduga. Dia menjadi anak yang kuat.

***

            Pagi menjelang, aku menggeliat dan beranjak turun dari ranjangku menuju kamar anak-anak Taman Bacaan untuk membangunkan mereka. Saat aku membuka pintu kamar Tya, aku tertegun di ambang pintu, kemudian sedikit berlari menghampirinya agar ia tak terjatuh.

“Kemana tongkatmu, Sayang?”  Tanyaku membantunya turun dari ranjang.

“Lepaskan Tya kak Putra, biarkan Tya turun sendiri. Biarkan Tya berjalan, kak Putra. Jangan bantu Tya.” Gadis kecil itu berkata dengan tegas. Aku diam saja melihatnya turun dari ranjang. Dia terjatuh. Aku segera akan membantunya namun dia teguh untuk melakukannya sendiri.

“Jangan bantu Tya kak Putra!” Suara serak itu muncul lagi, suara serak penuh getaran keinginan yang kuat. Dia mulai merangkak keluar kamar, mencoba berdiri saat berada di ambang pintu. Kakinya tak kuat menyangga tubuhnya karena terlalu lama tidak digerakkan, dia berdebam terjatuh. Dia coba lagi. Terjatuh lagi. Wajahnya meringis kesakitan. Tapi dia tak peduli, dia terus saja berusaha berdiri. Memaksa syaraf-syaraf di kakinya dapat digerakkan kembali. Dia kembali mencoba berdiri dan kembali terjatuh. Seterusnya seperti itu. Aku menyeka ujung-ujung mataku. Gadis kecilku. Berjuanglah! Kau pasti bisa.

Meski masih tertatih, ia terus saja berusaha berdiri, dia merangkak menuju ruang bermain, mencoba berdiri dengan mengandalkan tembok untuk penopangnya. Berulang-ulang ia terjatuh berdebam, ia meringis kesakitan. Namun semua itu tak menyurutkan tekadnya. Ia terus mencoba berdiri. Mencoba lagi. Mencoba lagi. Mencoba lagi. Sayang ia masih belum bisa berdiri. Kakak-kakak relawan Taman Bacaan terharu melihatnya berusaha sekeras itu. Anak-anak yang lain pun menyemangatinya. Karena semua itu, Tya semakin bersemangat. Tak peduli telah puluhan kali ia terjatuh, ia terus bangun dengan sendiri tanpa pernah mau dibantu oleh siapapun. Tuhan! Beri dia kekuatan. Aku percaya janjimu, Tuhan. Bukankah di balik kesukaran pasti ada kemudahan. Bantu dia Tuhan.

 
Leave a comment

Posted by pada 05/02/2012 in cerpen

 

Kaitkata: , , ,