RSS

Arsip Tag: cerita mini

Ketika Keduanya…

 

Ketika hidup memberimu dua pilihan; yang satu adalah hidupmu, sedang yang satunya adalah mataharimu. Mana yang akan kau pilih?

***

“Bagaimana? Apa kau suka?” tanyanya tersenyum lembut sembari menggenggam tanganku. Kubalas tatapan teduhnya sembari tersenyum, “iya,” jawabku. Hanya orang buta yang tak menyukai tempat seindah ini; bintang-bintang terang membentuk segala hal, bulan bulat penuh, langit cerah, dengan pemandangan perbukitan dan gunung-gunung, dan kerlap-kerlip lampu kota yang kusebut ‘bintang di bawah’. Siapa yang tak kan menyebut tempat ini indah?

“Aku mencintaimu,” kataku pelan.

***

“Jangan pergi,” katamu dulu. Dan aku mengurungkan niatku pergi untuk dirimu, karena memang untukmulah aku tujukan hidup ini. Tak mungkin aku meninggalkanmu begitu mudahnya. Kau itu segalaku. Dan kaulah hidupku…

Kita sama-sama tahu bahwa kita itu satu, jadi dengan alasan apa pun hal itu tak akan berubah. Itu kataku dulu dalam hati. Memang, kau hidupku..

***

“Pahami saja apa yang kau rasakan, yang sebenarnya ada dalam hatimu, maka kau akan menemukan jawaban.” Ia mengatakannya dengan senyum itu. Yah! masih dengan senyum penuh kelembutan disaat aku telah memporak-porandakan hatinya. Aku mencintainya. Ia, Matahariku…

 

“Aku sayang kamu,” katamu tiba-tiba. Aku bergeming. Ya! kau selalu bisa meluluhkan diriku. Aku mencintaimu, dengan atau tanpa segala keistimewaanmu, Hidupku…

***

Sekarang, Ketika hidup memberimu dua pilihan; yang satu adalah hidupmu, sedang yang satunya adalah mataharimu. Mana yang akan kau pilih?

***

 
1 Comment

Posted by pada 18/04/2012 in cerpen, Uncategorized

 

Kaitkata: , , ,

Satu Tahun, Sayang…

 

Segala perasaan itu pasti berubah, aku percaya itu.

Saat ini memang hanya bisikmu yang kudengar, entah nanti…

Saat ini memang hanya sinar matamu yang kurasa, entah nanti…

Saat ini memang hanya senyummu yang kuingat, entah nanti…

Jogja, Juli 2009

 

Itu tulisku pada suratku setahun yang lalu saat kau menikah. Kutulis agar kau merasa bebas dari perasaanku dan untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kau tak penting untukku, bahwa mudah saja bagiku untuk melupakanmu. Nyatanya, sampai saat ini masih hanya sinar matamu yang kurasa, masih hanya bisikmu yang kudengar. Ketika segala dalam hidupmu berubah, hidupku terhenti di titik ini, tak ada yang berubah padaku sejak aku mengenalmu. Segalaku terhenti padamu. Ya! Segalaku terhenti padamu.

Minggu lalu saat tak sengaja kita bertemu kau menyebutku gila di tengah obrolan kita, aku tertawa saja menanggapi ungkapanmu itu. Gilakah aku yang hanya mencintamu? Gilakah aku yang masih mengharapmu meski mustahil? Gilakah aku yang semakin hari semakin menginginkan kehadiranmu? Bila semua itu adalah sebuah kegilaan, maka aku memang benar-benar sudah melampaui batas kegilaan. Sebab aku tak kan pernah menikah dengan wanita mana pun selain denganmu.

Teramat ingin ku peluk kau saat itu, tapi sesosok tubuh mungil di gendonganmu membuatku diam. Ya! Memang hanya aku yang tak berubah. Saat itu aku sangat berharap cintaku akan lenyap dengan melihat bayi mungil itu, tapi tidak! Perasaan ini justru semakin kuat, aku semakin menginginkanmu. Kesadaran itu membuatku sangat ingin menjatuhkan tubuhku ke dalam jurang yang teramat dalam. Sekarang, aku mulai takut pada diriku sendiri, pada perasaanku. Takut bila aku tak kan mampu menahan diriku untuk membawamu pergi bersamaku. Itulah yang membuatku mengucapkan hal yang membuatmu terdiam, “Berhati-hatilah. Jaga hatimu. Mohon perlindungan pada Tuhan agar kau terjaga dari setan di dalam hatiku.”

Kau tahu? Aku sama sekali tak menyesal telah mengatakan itu padamu, karena sinar matamu berubah setelahnya, sinar matamu menceritakan segalanya. Ada perih di sana, ada takut, sedih dan aku yakin muncul harapan di sana, di mata pelangimu itu. Satu tahun, Sayangku. Dan kau pandai berpura-pura…

 
Leave a comment

Posted by pada 12/04/2012 in cerpen

 

Kaitkata: , ,