Ketika hidup memberimu dua pilihan; yang satu adalah hidupmu, sedang yang satunya adalah mataharimu. Mana yang akan kau pilih?
***
“Bagaimana? Apa kau suka?” tanyanya tersenyum lembut sembari menggenggam tanganku. Kubalas tatapan teduhnya sembari tersenyum, “iya,” jawabku. Hanya orang buta yang tak menyukai tempat seindah ini; bintang-bintang terang membentuk segala hal, bulan bulat penuh, langit cerah, dengan pemandangan perbukitan dan gunung-gunung, dan kerlap-kerlip lampu kota yang kusebut ‘bintang di bawah’. Siapa yang tak kan menyebut tempat ini indah?
“Aku mencintaimu,” kataku pelan.
***
“Jangan pergi,” katamu dulu. Dan aku mengurungkan niatku pergi untuk dirimu, karena memang untukmulah aku tujukan hidup ini. Tak mungkin aku meninggalkanmu begitu mudahnya. Kau itu segalaku. Dan kaulah hidupku…
Kita sama-sama tahu bahwa kita itu satu, jadi dengan alasan apa pun hal itu tak akan berubah. Itu kataku dulu dalam hati. Memang, kau hidupku..
***
“Pahami saja apa yang kau rasakan, yang sebenarnya ada dalam hatimu, maka kau akan menemukan jawaban.” Ia mengatakannya dengan senyum itu. Yah! masih dengan senyum penuh kelembutan disaat aku telah memporak-porandakan hatinya. Aku mencintainya. Ia, Matahariku…
“Aku sayang kamu,” katamu tiba-tiba. Aku bergeming. Ya! kau selalu bisa meluluhkan diriku. Aku mencintaimu, dengan atau tanpa segala keistimewaanmu, Hidupku…
***
Sekarang, Ketika hidup memberimu dua pilihan; yang satu adalah hidupmu, sedang yang satunya adalah mataharimu. Mana yang akan kau pilih?
***