Sore itu langit indah dipenuhi lukisan awan. Membentuk sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Membuat setiap orang yang melihat langit mendecakkan kekaguman. Tapi tampaknya, langit tak seindah kelihatannya bagi Nira. Di pinggir lapangan bola yang sepi itu, pandangannya hampa menatap langit, padahal sejak kecil ia paling suka memandang langit lalu menerjemahkan berbagai bentuk awan ke dalam gambar-gambar yang ia cipta sendiri. Singkatnya, sangat ganjil melihat Nira menatap langit dengan pandangan seperti itu ketika langit cerah.
Dua meter dari tempat Nira duduk, seorang perempuan setengah baya berjalan mendekatinya. Lastri namanya. Mereka bersahabat sejak masih di bangku SD, persahabatan itu terjaga hingga sekarang mereka sudah sama-sama berkeluarga.
Lastri duduk di samping Nira, menatap langit, sama seperti yang dilakukan Nira. Ia tahu, ada sesuatu yang terjadi pada Nira. Setelah cukup lama mereka memandang langit dengan diam, Lastri mulai jengah dengan kesunyian itu.
"Awan-awannya indah, ya.." Kata Lastri membuka percakapan, masih tetap memandang langit. Tapi tak ada jawaban. Ia alihkan pandangannya pada sahabat sejak kecilnya itu. Ada air mata di sana. Dengan lembut, Lastri merangkul Nira. "Apa ada sesuatu yang terjadi, Nira?" Tanyanya lembut. Masih tak ada jawaban. "Kau bisa cerita padaku, Nira. Aku pasti akan membantumu semampuku," katanya sambil mengelus pundak Nira. Dan masih saja tak ada jawaban. Lastri tahu, itu artinya Nira sedang tidak ingin bercerita sekaligus tak ingin ditemani. "Baiklah. Aku akan pulang. bila ada apa-apa datang saja padaku, aku akan ada untukmu," katanya sembari tersenyum. Lastri bangkit berdiri lalu meninggalkan Nira seorang diri setelah sebelumnya memandang sahabatnya dengan prihatin.
Seminggu berlalu sejak sore itu, tapi Nira masih belum berubah. Setiap sore, ia hanya duduk di pinggir lapangan, menatap langit dalam kehampaan dan sesekali menangis tanpa suara. Bagi Nira, langit berbeda sekarang. Lastri masih juga menemani Nira setiap sorenya, masih juga mendapati kesunyian yang tak mengenakkan, masih juga mendapati Nira tak ingin bercerita. Tapi sore ini berbeda..
"Dia pergi, Las. Sudah seminggu ini, belum kembali." Katanya ringkas. Lastri yang sedang memandang langit terkejut.
"Dia siapa maksudmu, Ra?"
"Mas Danu. Dia pergi. Aku tak tahu dia ke mana, dia pergi begitu saja," jawabnya datar. Tapi, matanya mulai berkaca-kaca. Dan kali ini Lastri tak bisa menahan keterkejutannya, semua orang tahu bagaimana saling mencintainya dua sejoli itu, Danu dan Nira. Bagaimana bisa tiba-tiba Nira cerita bahwa Danu meninggalkannya?
"Apa maksudmu, Ra? Danu meninggalkanmu? Kenapa?" Tanya Lastri beruntun.
"Entah. Aku juga tak tahu." Jawab Nira datar. Tapi ia menangis, masih tanpa bersuara.
"Apa maksudmu dengan tak tahu, Ra?" Tanya Lastri lagi. Ia tak puas dengan jawaban Nira. Waktu berlalu, tapi Nira hanya diam. Tak ada jawaban. Lastri tahu, Nira tak akan lagi menjawab.
***
Siang awal bulan Agustus, Lastri bertandang ke rumah Nira. Ia ingin melihat kondisi Nira dan mencari tahu adakah yang bisa ia bantu untuk sahabatnya itu. Tapi langkahnya terhenti di halaman. Dilihatnya seorang lelaki sedang duduk ditemani secangkir kopi di teras rumah Nira. "Dia sudah pulang," gumamnya sambil tersenyum. Didekatinya lelaki itu.
"Lagi nyantai, Mas?" Tanya Lastri basa-basi.
"Iya," jawab lelaki itu sambil tersenyum ramah. "Sudah lama kamu tak main ke sini."
"Iya, mas. Niranya ada kan, mas?"
"Iya, masuk saja. Ia di dalam."
Lastri masuk ke dalam rumah yang termasuk sederhana itu. Di ruang tamu, ditemuinya berbagi lukisan tergantung di dinding-dinding ruangan. Ruangannya tak besar dan sedikit gelap karena sedikit sekali sinar matahari yang masuk ke ruangan itu. Rumah itu sepi, sebab mereka -Nira dan Danu- hanya hidup berdua dan belum memiliki anak. Tak ditemuinya Nira di ruang tamu, ia masuk ke ruang tengah. Didapatinya sahabatnya itu sedang diam menonton televisi. Nira tak tahu kalau Lastri ada di situ, sebab ia duduk memunggungi Lastri.
"Hai," sapa Lastri sembari duduk di sebelah Nira.
"Lastri? Kamu ke sini?" tanyanya heran. Tak menyangka sahabatnya itu akan berkunjung.
"Yup," jawab Lastri sambil tersenyum lebar. "Suamimu sudah kembali? Pasti sekarang kamu tak bersedih lagi," tambahnya. Mendengar perkataan Lastri, Nira malah membuang muka. Sontak wajah cerah Lastri berubah keheranan. "Nira?"
"Mas Danu belum kembali. Dia belum pulang." Katanya datar.
"Apa maksudmu dengan dia belum kembali? Kulihat dia duduk di teras sambil minum kopi. Dan aku sangat yakin, kopi yang dia nikmati itu kamu sendiri yang menyeduhnya, lalu apa maksudmu dengan dia belum kembali?" Tanya Lastri cepat.
Ada jeda beberapa menit sampai akhirnya Nira menjawab, "dia bukan Mas Danu."
Apalagi ini? Pikir Lastri yang sama sekali tak mengerti dengan maksud Nira.
"Dia bukan Mas Danu, dia orang lain. Mas Danu tak seperti itu. Mas Danu tak mungkin bersikap sekasar itu padaku. Mas Danu tak mungkin berbicara dengan memakiku. Mas Danu tak mungkin berubah jadi kasar dan mudah marah hanya karena kesalahan kecil. Mas Danu tak akan mungkin tega memukuliku. Mas Danu tak akan mungkin mencercaku. Mas Danu tak mungkin sekejam itu. Itu orang lain. Itu bukan Mas Danu. Mas Danu sedang pergi, dia belum kembali." Jelas Nira panjang sampai nafasnya megap-megap. Dia menangis, kali ini tangisnya bersuara pelan. Lembut, tapi menyesakkan bagi Lastri. Apa yang terjadi dengan sahabatnya ini? Tanya Lastri dalam hati. Ia rangkul Nira dalam pelukannya, ia tahu itu tak kan cukup membantu, tapi paling tidak Nira tahu kalau dirinya tak sendiri. Ia diam saja menunggui Nira menangis, ia berniat tak kan tanya-tanya lagi tentang masalah keluarga Nira. Tapi nampaknya, hari itu Nira ingin bercerita banyak. Sepertinya, semua beban yang ia pendam sendiri selama ini tak kuat lagi ia tanggung.
"Dia berubah, Las.." katanya bercerita lagi sambil sesenggukan. "Awalnya aku tak tahu mengapa, tiba-tiba siang itu Mas Danu marah-marah tak jelas, sepertinya ada yang tak beres dengan pekerjaannya. Dia mengamuk sejadi-jadinya. Semua barang di meja makan dia banting, dia menendang semua barang yang dekat dengan kakinya, dia lemparkan semua barang yang bisa digapainya. Aku ketakutan, Las.. tak pernah kulihat Mas Danu seperti itu. Lalu aku beranikan diri untuk mendekati dan menenangkannya. Kupinta dia duduk dan minum segelas air, kupikir itu bisa menenangkannya, tapi tidak. Dia malah semakin marah, dia tak bisa mengendalikan emosinya. Dia memaki dan memukuliku. Aku babak belur dihajarnya. Dia baru berhenti saat dilihatnya aku tak berdaya, tak mampu berdiri. Aku takut, Las.. itu bukan Mas Danu, Las.. Mas Danu tak mungkin sekasar itu. sejak itulah kuanggap dia bukan Mas Danu. Kuanggap Mas Danu sedang pergi. dia orang lain."
Lastri tahu, ada kesedihan, kekecewaan, kerinduan dan kebencian dalam nada suara Nira. Tapi ia diam. Ia hanya perlu mendengarkan.
"Sejak itulah dia berubah, Las. Dia menjadi orang yang paling gampang marah hanya karena sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya. bicaranya jadi kasar. Bila aku melakukan kesalahan sedikit saja, maka dia tak segan-segan untuk memukuliku. Aku kesakitan, Las. Batin dan ragaku kesakitan. Tapi dia berubah sikap hanya kepadaku, Las. Pada orang lain dia tetap ramah dan baik. hanya padaku dia bersikap sekasar itu. Aku takut, Las.. Entah apa yang membuatnya berubah seperti itu, aku tak tahu sama sekali. Pernah aku bertanya penyebab perubahannya, bukan jawaban yang aku terima, tapi pukulan dan makian. Dia bukan Mas Danu, Las. Dia orang lain." badan Nira bergoncang karena menahan tangis. Kalau saja saat itu Danu tidak sedang di rumah, pasti tangis Nira sudah meledak.
***
Sore tengah bulan Agustus itu, Lastri mendapati Nira sedang duduk diam menatap langit di pinggir lapangan seperti yang dia lakukan selama sebulan ini. Tiba-tiba Lastri teringat dengan perkataan terakhir Nira di akhir ceritanya.
"Dia berubah, Las. Aku pun sudah menganggapnya bukan lagi Mas Danu, tapi cintaku padanya tak sedikit pun berkurang, sedikit pun tak berkurang. Aku terlanjur mencintainya. Dan sekarang aku masih teramat mencintainya. Perubahannya itu tak menyurutkan cintaku padanya meski aku teramat sering tersakiti. Aku mencintainya, jadi aku akan menunggu Mas Danu kembali walau aku tak tahu sampai kapan itu. Aku mencintainya…"
dari kejauhan, Lastri menatap langit seperti yang dilakukan Nira. Ya, langit memang berbeda sekarang. Gumamnya..