“Alkisah, disebuah kampung hiduplah gadis kecil berumur sepuluh tahun, dia hidup dengan kedua orang tuanya. Meski miskin, namun hidup mereka sangat bahagia. Tapi kebahagiaan itu segera berakhir setelah peristiwa tragis itu terjadi, sang gadis kecil tertabrak truk yang mengakibatkan dia tidak bisa berjalan dengan normal, dia harus memakai tongkat untuk menyangga tubuhnya yang kecil. Sang ibu tidak dapat menerima keadaan ini, tiap malam ibunya selalu menangisi keadaan putri tunggalnya. Sang gadis kecilpun merasakan kesedihan ibunya, ia tidak ingin ibunya terus menangisi keadaannya. Maka dia berjanji,dia akan dapat berlari lagi seperti dulu. Dia berjanji.
Sang gadis kecil belajar berjalan terus menerus tanpa sepengetahuan orang tuanya. Meski membutuhkan waktu yang teramat lama hingga bertahun-tahun lamanya, tapi tak sekali pun gadis itu menyerah. Usahanya pun membuahkan hasil, ia dapat berjalan lagi, bahkan kini ia bisa berlari meski kadang masih sering terjatuh. Dia persembahkan hadiah itu pada ibunya. Sungguh, ibunya bahagia sekali. Hari penuh bahagia berjalan kembali. Merekapun hidup bahagia selamanya.” Aku tersenyum menyudahi dongeng untuk anak-anak yang duduk di depanku.
“Nah, adik-adik. Karena sekarang sudah waktunya makan siang, kita makan dulu, yuk. Nanti setelah makan, kita main-main lagi. Kalian setuju?” Tanyaku.
“Setuju…!” Anak-anak itu menjawab dengan serempak lalu berhamburan menuju ruang makan. Bahagianya aku melihat senyum mereka.
“Kak…” sebuah suara memanggilku. Kudapati seorang gadis kecil menarik bajuku.
“Iya, sayang.. ada apa?”
“Tya janji kak Putra, Tya janji. Tya akan bisa berjalan seperti cerita kakak, Tya akan berusaha. Tya akan berusaha agar Tya bisa berlari, Tya akan berusaha. Tya janji kak Putra.” Aku tertegun mendengarnya. Wajah yang biasanya selalu dihiasi tawa riang, berubah menjadi wajah yang serius, penuh keyakinan. Suaranya serak penuh getaran, getaran karena keinginan yang kuat. Aku hanya menatapnya. Sungguh, aku tak menyangka perkataan seperti itu akan keluar dari mulut seorang bocah kecil berumur tujuh tahun. Keinginan itu terpancar dari mata beningnya. Aku memeluknya. Kuusap ujung-ujung mataku.
Ah! Tak terasa waktu sudah berjalan tiga tahun setelah aku menemukan anak kecil berumur empat tahun di depan kos-kosanku. Aku masih ingat dengan jelas malam itu, hujan deras mengguyur bumi. Aku menemukan anak perempuan kecil, dia kedinginan, terkulai lemah, tubuhnya sangat dingin, bibirnya membiru, tak berdaya dan pingsan.
Esoknya, begitu bangun bocah kecil itu menangis, mungkin dia merasa asing berada di kamarku. Aku mencoba menenangkannya, memberikan keterangan ringan tentang mengapa ia kini berada disini, dan kulakukan hal-hal konyol agar gadis kecil itu tertawa. Aku berhasil! Saat kulihat bocah itu tertawa seolah dunia pun ikut tertawa, wajahnya bercahaya, rambutnya ikal hitam legam sehitam matanya, pipinya tembem, gigi-giginya lucu seperti kelinci, dia benar-benar nampak seperti peri kecil yang sempurna. Sayang, kedua kakinya cacat, dari lutut hingga ujung jarinya lumpuh. Sebenarmya kedua kakinya terlihat normal, hanya sedikit lebih kecil karena tidak pernah digerakkan. Menurut dokter, syaraf-syaraf motoriknya terjepit, membuatnya tidak dapat bergerak meski hanya untuk menggerakkan jempol kaki.
Satu bulan setelah itu, aku dan teman-temanku membangun sebuah Taman Bacaan untuk anak-anak terlantar. Taman Bacaan ini berkembang cepat, hanya berjarak setengah tahun saja sudah ada beberapa Taman Bacaan di sekitar Jogja, anak-anaknya pun sudah mencapai ratusan. Semua bermula dari bocah itu. Tya. Ya. Sejak menemukannya, aku berjanji berusaha sebisa mungkin agar tak ada lagi yang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Berusaha agar tawa riang anak-anak tak hilang dari wajah mereka.
Dan kini setelah tiga tahun berlalu, anak perempuan kecil yang berjalan dengan menggunakan dua tongkat di ketiaknya mengatakan hal yang tak terduga. Dia menjadi anak yang kuat.
***
Pagi menjelang, aku menggeliat dan beranjak turun dari ranjangku menuju kamar anak-anak Taman Bacaan untuk membangunkan mereka. Saat aku membuka pintu kamar Tya, aku tertegun di ambang pintu, kemudian sedikit berlari menghampirinya agar ia tak terjatuh.
“Kemana tongkatmu, Sayang?” Tanyaku membantunya turun dari ranjang.
“Lepaskan Tya kak Putra, biarkan Tya turun sendiri. Biarkan Tya berjalan, kak Putra. Jangan bantu Tya.” Gadis kecil itu berkata dengan tegas. Aku diam saja melihatnya turun dari ranjang. Dia terjatuh. Aku segera akan membantunya namun dia teguh untuk melakukannya sendiri.
“Jangan bantu Tya kak Putra!” Suara serak itu muncul lagi, suara serak penuh getaran keinginan yang kuat. Dia mulai merangkak keluar kamar, mencoba berdiri saat berada di ambang pintu. Kakinya tak kuat menyangga tubuhnya karena terlalu lama tidak digerakkan, dia berdebam terjatuh. Dia coba lagi. Terjatuh lagi. Wajahnya meringis kesakitan. Tapi dia tak peduli, dia terus saja berusaha berdiri. Memaksa syaraf-syaraf di kakinya dapat digerakkan kembali. Dia kembali mencoba berdiri dan kembali terjatuh. Seterusnya seperti itu. Aku menyeka ujung-ujung mataku. Gadis kecilku. Berjuanglah! Kau pasti bisa.
Meski masih tertatih, ia terus saja berusaha berdiri, dia merangkak menuju ruang bermain, mencoba berdiri dengan mengandalkan tembok untuk penopangnya. Berulang-ulang ia terjatuh berdebam, ia meringis kesakitan. Namun semua itu tak menyurutkan tekadnya. Ia terus mencoba berdiri. Mencoba lagi. Mencoba lagi. Mencoba lagi. Sayang ia masih belum bisa berdiri. Kakak-kakak relawan Taman Bacaan terharu melihatnya berusaha sekeras itu. Anak-anak yang lain pun menyemangatinya. Karena semua itu, Tya semakin bersemangat. Tak peduli telah puluhan kali ia terjatuh, ia terus bangun dengan sendiri tanpa pernah mau dibantu oleh siapapun. Tuhan! Beri dia kekuatan. Aku percaya janjimu, Tuhan. Bukankah di balik kesukaran pasti ada kemudahan. Bantu dia Tuhan.