RSS

Arsip Tag: valentine

Valentine’s Day

Hai. Bagaimana kabarmu? Semoga selalu dalam keadaan baik dan sehat.

Akhirnya ujian selesai juga, aku lulus dengan nilai yang memuaskan, bagaimana denganmu? Pasti kau pun juga begitu. Kegiatan apa yang akan kau lakukan sekarang? Akan melanjutkan sekolah? Atau bekerja? Apa pun itu, pasti akan sangat menyenangkan, ya.

Aku akan melanjutkan sekolah. coba tebak di mana aku akan melanjutkan sekolah. Di kotamu, ya, di Jogja aku akan melanjutkan sekolah. Minggu depan aku akan pindah ke kota tempat kau tinggal. Kita akan tinggal di kota yang sama, pasti akan sangat menyenangkan. Bila aku sudah di sana, kau mau kan mengajakku berkeliling Jogja? aku tak mau menghabiskan waktuku hanya untuk tersesat. Haha..

Sekarang, aku sedang membereskan semua perlengkapanku untuk pindahan, ternyata banyak sekali barang yang harus aku bawa.

Aku hanya ingin mengabarimu kalau aku akan tinggal di kotamu, jadi sampai ketemu di sana. Semoga pertemuan kita menjadi pertemuan yang menyenangkan.

Salam hangat,

Wahyu

Aku tak percaya dia akan ke sini, sahabat penaku sejak dua tahun lalu. Seperti apa wajahnya? Apa nanti dia akan menyukaiku? Semoga aku tak dianggapnya menyebalkan nanti. Hhh.. mengingat nantinya pertemuan ini akan menjadi pertemuan pertamaku dengan sahabat pena membuatku gugup. Kubaca surat itu sekali lagi, lalu kuambil sehelai kertas untuk membalasnya.

***

Siang panas di akhir bulan Oktober ini aku menemani Wahyu ke toko buku. Dia memang pernah bercerita kalau dia sangat menyukai buku, tapi aku tak pernah tahu kalau dia gila buku, sama sepertiku.

Sejak ia pindah ke sini, ke mana pun ia pergi, pasti aku ada bersamanya. Ya, sejak pertemuan pertama kami setelah bersahabat pena selama dua tahun, akhirnya kami bersahabat tak lagi lewat surat. Dan seperti yang aku duga sebelumnya, kalau kami akan cocok.

Awal bertemu aku teramat gugup, tapi kegugupanku sirna begitu dia bicara. Caranya berbicara mampu membuat aku nyaman dengannya. Ternyata dia tipe orang yang banyak bicara, dan semua yang dia bicarakan itu berbobot, beda sekali denganku yang selalu bicara tak penting. Teramat sering aku merasa rendah diri, tapi dipertemuan kami yang kesekian kalinya dia seperti mengerti apa yang aku rasakan, dan katanya, “Aku ini tipe orang yang nggak bisa bercanda dan terkesan serius, jadi aku butuh teman yang berbeda denganku, yang tak melulu ngomongin hal-hal berat. Kau tahu tidak, kaulah teman yang aku butuhkan itu.” Aku menatapnya tak berkedip, dan dia membalas tatapanku dengan senyum manis. Membuatku malu dan menundukkan kepala.

Wahyu, sahabat penaku itu, punya pribadi yang menyenangkan; dia banyak bicara, ramah, tangannya tak bisa tenang bila sedang berbicara, seolah tangannya ikut bercerita. Tak hanya itu, penampilan fisiknya pun menarik; dia tampan, cukup tinggi, hidungnya mancung, bola matanya berwarna hitam, warna kulitnya sedikit gelap, dan kalau ia tersenyum, sederet gigi putih akan terlihat. Sangat menyenangkan berteman dengannya.

***

Sekarang akhir bulan Desember, tak terasa sudah setengah tahun dia tinggal di sini, di kotaku. Persahabatan kami semakin dekat saja, sampai-sampai beberapa teman mengira kalau kami berpacaran, membuat kami tertawa bersamaan, menertawakan ucapan mereka.

Tahun baru ini aku akan merayakan tahun baru dengan Wahyu sekaligus untuk pertama kalinya juga aku merayakan tahun baru, setelah bertahu-tahun lamanya setiap tahun baru hanya kuhabiskan di kamar, membaca buku. Ya, aku tak pernah merayakan tahun baru, dan jangan tanya kenapa.

“Kau mau kita ke mana malam ini, Ris?” tanyanya

“Ke mana, ya? Mm.. gimana kalau malam ini kau saja yang memutuskan, ke mana pun tujuanmu aku pasti ngikut, dah…”

“Oke kalau begitu. Ke mana pun aku mengajakmu, kamu jangan protes, ya.” Katanya sambil tersenyum, “dan jangan banyak tanya.” Tambahnya dengan raut galak yang dibuat-buat.

“Siap!” Aku menyanggupi sambil menahan tawa.

Motornya menuju kafe yang biasa jadi tempat nongkrong kami, kupikir disitulah kami akan menghabiskan malam ini, tahun baru ini. Tapi, motornya tak berhenti di kafe itu, dia membelokkan motornya di belokan ke kanan setelah kafe itu berada. “Mau ke mana kita?” tanyaku penasaran.

“Eits! Kau kan sudah janji untuk tak akan banyak tanya,” jawabnya, dan tanpa melihat wajahnya pun aku tahu kalau dia menjawab sambil tersenyum.

“Baiklah,” kataku memutar bola mataku.

Jalanan yang kami lewati mulai sepi, jalannya mulai menyempit dan tak rata, kuamati sekeliling, aku tak tahu daerah sini. Aku mulai takut tersesat, tapi kulihat Wahyu mengemudi dengan santai sambil bersiul.

“Hei, mau ke mana sih kita?” Tanyaku gusar.

“Hhh… kau ini. Kau kan sudah janji untuk tak banyak tanya,” jawabnya.

“Iya, tapi kita tidak tersesat, kan? Kok jalannya sepi banget,” dia terkekeh mendengar ucapanku.

“Tenang saja, aku tahu kok jalan ini.” Katanya menenangkan.

Walau pun dia berkata begitu, tetap saja itu tak membuat kegelisahanku sirna.

“Kita mau ke mana, sih?”

“Berhentilah bertanya, Rista.. kau kan sudah janji,” dapat kurasai dia memutar bola matanya saat mengucapkannya.

“Baiklah,” kataku akhirnya.

***

Ternyata malam itu Wahyu membawaku ke sebuah tempat yang teramat indah. Tempatnya sedikit berada di ketinggian, tak ada gedung ataupun rumah di tempat itu, ada sebuah bangku panjang ditengah rimbun pepohonan. Dari tempat itu, dapat kulihat pemandangan kota, ternyata kotaku sangat indah dipandang di malam hari seperti ini. Ribuan sinar lampu membuatnya seperti bintang-bintanng di langit, teramat indah.

“Kau suka?” tanyanya.

Kutatap matanya, “Ya, aku suka sekali. Cantik!” kataku takjub. Dia tersenyum mendengarnya, senyum yang aku suka.

“Coba lihat ke atas,” pintanya. Kutengadahkan kepalaku dan kulihat ada ribuan bintang di langit, dengan bulan penuh. Sangat indah. Belum sempat aku mengungkapkan kekagumanku, kembang api-kembang api bermunculan di langit, menghiasi langit yang sudah di penuhi bintang-bintang.

“Cantik sekali!” Gumamku.

“Selamat tahun baru, Rista.” Katanya di sampingku. Kupalingkan wajahku untuk melihat wajahnya.

“Selamat tahun baru, Wahyu. Terima kasih untuk malam ini. Indah sekali,” kataku sambil tersenyum lebar, tak bisa menahan kegembiraan.

Lalu sisa malam itu kami habiskan untuk duduk di bangku tempat itu sambil memandang langit. Menikmati keheningan yang menyenangkan. Sampai tiba-tiba,

“Rista, aku suka kamu.” Katanya berbisik. Sontak aku kaget, tak mengira ia akan mengucapkan itu, dan malam ini aku tak siap dengan pernyataannya. Aku melihatnya, dia membalas tatapanku lembut. Aku tak siap, ku tundukkan kepalaku. Apa yang harus aku katakan? Tanyaku dalam hati. Mendadak tanganku berkeringat, bagaimana ini? Tanyaku lagi dalam hati.

“Aku.. aku.. Wahyu.. aku..” kataku gugup, bingung musti bicara apa.

“Rista,” panggilnya lembut. “Kau tak perlu bilang apa pun, aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku rasa selama ini padamu. Aku tak butuh jawaban, aku hanya ingin kamu tahu,” katanya lembut sambil tersenyum padaku.

***

Sejak pernyataan Wahyu malam itu, aku tak lagi bisa bersikap biasa padanya. Aku selalu saja mendadak gugup begitu bersama dengannya, aku tak lagi banyak bicara, itu membuatku sebisa mungkin menjauh darinya, mengurangi intensitas bertemu kami. Meski pun Wahyu bersikap biasa saja, tapi aku tak bisa bersikap seperti dia. Lama-kelamaan sepertinya dia menyadari perubahan sikapku, jadi senin siang itu, tiba-tiba dia memutuskan agar kami tak saling bertemu dulu, dia tahu kalau aku tak lagi bisa bersikap nyaman berada di dekatnya, jadi lebih baik kami tak bertemu lagi sampai aku siap bertemu dengannya, katanya. Aku tak menolak, tapi aku pun tak mengiyakan.

Dua minggu sudah aku jalani hari tanpa Wahyu di dekatku, hari-hariku tanpanya ternyata sangat membosankan. Aku mulai berpikir, apa sebenarnya yang menyebabkan aku berubah sikap? Kalau aku tak suka padanya, kenapa aku berubah sikap? Dia kan tak butuh jawaban, jadi kenapa aku musti gugup? Lalu kenapa aku gugup? Apa ternyata aku juga menyukainya? Ah! Masa aku menyukainya? Dia kan sahabatku. Entahlah! Kenapa aku jadi terus-terusan memikirkannya? Aku memang menyukainya, ya? Memang suka tu yang seperti apa? Iya sih selama ini aku merasa nyaman dengannya, aku juga selalu ingin tahu kabarnya kalau sehari aja dia nggak ada kabar. Begini ya suka itu? Tapi kan kami sahabat, jadi wajar saja kan kalau aku nyaman dengannya? Binguuung…. Aaaarrggh…!!!

***

Ya. Aku tahu sekarang kalau aku juga menyukainya, kalau aku juga mencintainya, itulah sebabnya kenapa aku gugup. Tapi keadaan kami sekarang sudah seperti ini, kami tak lagi bertemu, bagaimana caranya aku memberitahunya kalau aku juga menyukainya? Apa aku harus mengajaknya bertemu? Tidak! Aku malu. Lalu bagaimana? Valentine’s Day! Ya, Valentine’ Day. 3 hari lagi kan Valentine’ Day, kenapa tak kubuatkan saja dia cokelat? Ya. Begitu. Gumamku.

Lalu selama 3 hari aku sibuk membuat bermacam-macam cokelat; cokelat berbentuk wajah, cokelat berbentuk hati, cokelat berbentuk bintang.

Akhirnya hari valentine tiba, sengaja aku menunggunya di perpustakaan yang biasa dia kunjungi. Sudah dua jam aku menunggunya, tapi dia tak datang juga, atau hari ini dia tak datang, ya? Kupandangi cokelat yang sudah kubungkus dengan rapi di atas meja. Sirna sudah harapanku, pikirku

“Ris? Kau di sini?” itu suara yang sangat aku kenal. Segera aku dongakkan kepala. Ya, Wahyu, dia di depanku. Di hadapanku. Mendadak jantungku berdegup cepat.

“Mm… iya,” jawabku. Dia duduk di hadapanku, lalu membuka buku, mulai membaca. “Wahyu,” Panggilku dan dia kini menatap ke arahku. “Ya?” jawabnya

“Ini,” kataku singkat seraya menyerahkan bungkusan kotak berwarna pink, “untukmu,” imbuhku.

“Untukku?” tanyanya, aku balas dengan anggukan. “Apa isinya?” tanyanya lagi sambil membuka bungkusan yang ku beri, “cokelat?” tanyanya sambil menatap ke arahku.

“Ya, hari ini hari Valentine, aku membuatkannya untukmu.” Jelasku.

“Pasti enak, kumakan, ya.” Katanya sambil makan cokelat yang aku buat.

“Wahyu, aku juga mencintaimu,” bisikku tiba-tiba. Mendengar bisikanku, dia berhenti makan dan lagi-lagi menatap ke arahku. Tak berkedip. Ditatap seperti itu olehnya membuatku menundukkan kepala.

“Aku tahu,” katanya padaku sembari tersenyum, senyum yang aku suka. Tapi aku tak mengerti dengan maksudnya, “apa?” tanyaku. Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah tersenyum dan melanjutkan makan cokelat yang aku buat. “Rahasia,” ucapnya disela makannya sembari bangkit berdiri kemudian berlari. Kulihat ada kejahilan dimatanya.

Refleks aku berteriak, “Wahyuuuu….!!”

 
Leave a comment

Posted by pada 28/01/2012 in cerpen

 

Kaitkata: , ,